ARSITEKTUR TRADISIONAL, VERNAKULAR DAN KAITANNYA DENGAN PERKEMBANGAN ARSITEKTUR MELAYU SUMATERA UTARA

Aulia Muflih(1*),


(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract


Abstrak

Para ahli sependapat bahwa arsitektur tradisional Sumatara Utara terdiri dari delapan etnis [suku bangsa] yaitu: Batak Karo, Batak Toba, Batak Simalungun,  Batak Pakpak-dan Mandailing. Tujuan penelitian ini ialah untuk meneliti Bagaimana perkembangan arsitektur Melayu Sumatera Utara [Tapanuli Selatan] Pantai Barat [Sibolga]  Nias  dan Melayu. Metode penelitian yang di gunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dan langkah-langkah penafsiran data dengan menggunakan metode  analisis komparatif. Hasil penelitian ini menunjukan Dengan mengkaji secara  lengkap dan hati-hati, dapatlah kita memilah apa  yang disebut  arsitektur tradisionsl, arsitektur tradisional murni,  dan mana yang disebut vernakular, dan kita akan terhindar dari istilah-istilah yang  “semu”.

Kata kunci : Arsitektur tradisional, Vernakular, Melayu Sumatera Utara, Budaya Islam, Permukiman, Teknologi.

 

 

Abstract

Experts agree that the traditional architecture of the North Sumatara consists of eight ethnic [tribe], namely: Batak Karo Batak Toba Batak Simelungun, Batak Pakpak-and Mandailaing. The purpose of this study was to examine the architectural development of Malay How North Sumatra [South Tapanuli] West Coast [Sibolga] Nias and Malay. The research method used is descriptive qualitative research methods and measures the interpretation of the data by using the method of comparative analysis.  These results indicate an examination is complete and carefully, can we sort out what is called tradisionsl architecture, pure traditional architecture, and where the so-called vernacular, and we will avoid the terms "pseudo".

Keywords: Traditional architecture, Vernacular, North Sumatra Malay, Islamic culture, Settlements, Technology.


Article Metrics

Abstract view : 250 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.