Deradikalisasi Teroris melalui Lapas Supermaksimum Security dari Perpective Implementasi Kebijakan

Autor(s): Dian Eko Rini, Teguh Kurniawan
DOI: 10.31289/publika.v7i2.2822

Abstract

Terorisme sebagai kejahatan ‘ideologi’ telah menjadi ancaman bagi lapas, termasuk dengan beberapa kejadian radikalisme di dalam lapas minimum security. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi kebijakan lapas supermaksimum security di Lapas Kelas IIA pasir Putih dalam rangka mewujudkan revatilisasi pemasyarakatan. Peneliti menggunakan teori yang disampaikan oleh Grindle sebagai panduan terkait implementasi kebijakan. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan melakukan wawancara dan tinjauan pustaka untuk mengumpulkan dokumen-dokumen tentang penerapan kebijakan lapas risiko tinggi dalam rangka mewujudkan sistem pemasyarakatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan lapas keamanan super maksimum dalam rangka mewujudkan revatilasisasi pemasyarakatan memberikan hasil yang positif bagi kelompok sasaran. Mengingat penerapananya yang masih 2 tahun berjalan, baik dalam konteks implementasi dan isi kebijakan masih diperlukan usaha lebih maksimal. Meskipun dapat dikatakan bahwa dua aspek tersebut sudah mengarah terlaksana kebijakan yang baik untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.

Keywords

Radikalisme; narapidana Resiko Tinggi; Pemasyarakatan

Full Text:

PDF

References

Creswell, John W. 2014. Research design: qualitative, quantitative, and mixed methods approaches – Fourth Edition. Amerika: Sage Publication Inc.

Firdaus, Insan. 2017. Penempatan Narapidana Teroris di Lembaga Pemasyarakatan.. Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, ISSN 1410-5632 Vol. 17 No. 4, hlm. 429 – 443.

Grindle, Marilee S. 1980. Politics and Policy Implementation in the Third World. Princeton: Princeton University Press.

Hassan, Muhammad Haniff dan Yasin, Nur Azlin Mohamed. 2012. Indonesian Prisons: A Think Tank for Terrorists. Counter Terrorist Trends and Analyses, Vol. 4, No. 8. https://www.jstor.org/stable/26351080.

Henningsen, R. J., Johnson, W. W., & Wells, T. 1999. Supermax prisons: Panacea or desperation?. Corrections Management Quarterly.

Laporan IPAC (Institute for Analysis of Conflict) Nomor 34 Tanggal 14 Desember 2016.

Mears, Daniel P.. 2008. An Assessment of Supermax Prisons Using an Evaluation Research Framework. The Prison Journal Volume 88 Number 1 March 2008 43-68. http://tpj.sagepub.com.

Miles, M.B., Huberman, A.M. 1994. Qualitative Data Analysis, 2nd ed. USA: Sage Publication.

Riveland, C. 1999. Supermax prisons: Overview and general considerations. Washington, DC: U.S. Department of Justice, National Institute of Corrections.

Peraturan

Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Nomor PAS-19.PR.01.01 Tahun 2015 Tanggal 11 Juni 2015 Tentang Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pemasyarakatan 2015-2019.

Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Standar Pembinaan Narapidana Teroris, 2015.

Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No. M.HH-05. OT.01.10 tanggal 30 Desember 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Keputusan Menteri Hukum dan HAM No. M.HH-07.OT.01.01 Tahun 2017 tentang Penetapan Lapas Batu, Lapas Pasir Putih, Lapas Narkotika Langkat, Lapas Narkotika Kasongan, Rutan Gunung Sindur sebagai Lapas dan Rutan Khusus bagi Napi atau Tahanan Resiko Tinggi (High Risk).

Keputusan Menteri No. M.HH-02.PK.01.02.02 Tahun 2017 tentang Pedoman Kerja Lembaga Pemasyarakatan khusus bagi Narapidana Resiko Tinggi (High Risk) Kategori Teroris.

Pedoman Kerja Lapas Khusus Bagi Napi High Risk Kategori Teroris

Peraturan Presiden No 44 Tahun 2015.

Undang-Undang No. 5 Tahun 2018.

Undang-undang Nomor 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.